BERANDA
LIPUTAN
PROGRAM
MAJALAH
PROFIL
Bre-X
Oryza Ardyansyah Wirawan
Thu, 9 August 2007
SEJAk terbit 10 tahun silam, buku Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi karya Bondan Winarno disebut sebagai salah satu laporan investigasi terbaik. Tetapi kepentingan ekonomi-politik kekuasaan yang merasa terancam menuntutnya ke pengadilan.
SAYA pertama kali menyapa Bondan Winarno melalui alamat emailnya yang saya peroleh dari seorang kawan di Jakarta. Hari-hari ini orang lebih mengenal Bondan sebagai pendekar kuliner yang kerap nongol di layar beling dengan mantra ‘mak nyus’. Ia bisa membuat orang menerbitkan air liur dan ingin mencoba makanan yang didefinisikannya sebagai ‘nendang banget’.

Namun, bagi sebagian khalayak dan jurnalis Indonesia, nama Bondan justru menjulang saat menerbitkan buku tentang skandal tambang emas Busang pada tahun 1997.

Buku ini sempat membuat malu pemerintah Indonesia di tahun-tahun terakhir menjelang runtuhnya rezim Soeharto. Sebuah buku yang ditulis berdasarkan liputan panjang yang melelahkan, yang menyingkap topeng para aktor skandal tersebut.

Melalui email pula, saya minta tolong mantan pemimpin redaksi Suara Pembaruan itu mengirimkan kepada saya foto kopi bukunya yang berjudul Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi itu.

Tak disangka, Bondan membalas email saya begitu lekas. Ia berjanji segera mengirimkan satu eksemplar buku tersebut.

“Sebagai rasa solidaritas sesama jurnalis,” katanya.

Buku itu saya terima dengan hati berbunga-bunga. Di halaman sampul bagian dalam terdapat tanda tangan Bondan dengan tulisan “Untuk Oryza”. Dan saya mulai membuka halaman pertama, bab pertama: sebuah petikan dari karya Mark Twain.

A mine is a hole in the ground owned by a liar. Sebuah tambang tak ubahnya sebuah lubang dalam tanah yang dipunyai seorang penipu. Kisah sang penipu. Itulah inti cerita Bondan.



AKTOR pertama yang mengawali kisah Busang ini adalah John Felderhof, seorang geolog kelahiran Belanda. Ia meyakinkan David Walsh, seorang promotor saham Kanada, untuk bisa ke Kalimantan melihat potensi emas di sana. Setelah 12 hari keluar masuk hutan, Felderhof menyarankan Walsh mengakuisisi sebuah properti di Busang, Kalimantan Timur, yang sudah dieksplorasi pada 1987 sampai 1989 oleh Montague Gold NL.

Walsh segera melayangkan surat kepada investor dari Bre-X untuk menjelaskan potensi Busang. Disebutkan dalam surat itu, tim geolog Australia yang sebelumnya melakukan eksplorasi sudah menemukan cadangan sebesar satu juta ons emas.

Walsh lantas membuat kesepakatan dengan Montague pada Juli 1993. Ia diberi waktu enam pekan untuk menghimpun dana. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah meniup terompet Bre-X. Ia mendapat persetujuan menaikkan nilai saham Bre-X di Alberta Stock Exchange menjadi 40 sen. Lalu dengan bermodal kliping koran, ia menjajakan saham Bre-X. Dalam waktu singkat, ia berhasil mengumpulkan C$ 200 ribu.

Sementara Walsh beraksi di bursa saham, Felderhof mulai mengebor di Busang sejak September 1993. Dengan berani, ia melapor kepada Walsh, bahwa sudah menemukan cebakan yang memiliki cadangan emas 1,5 sampai 2 juta ton. Laporan ini membuat Walsh semakin bersemangat dan berhasil meraup C$ 1 juta dengan melakukan free trading saham Bre-X dari posisi Bresea, perusahaan induk Bre-X.

Sekondan Felderhof dalam urusan menggali Busang adalah Michael de Guzman, seorang geolog Filipina. Penemuan awal de Guzman di Busang digunakan Felderhof untuk meyakinkan Walsh. Bersama de Guzman yang punya beberapa anak buah, sensasi Busang diletupkan Felderhof.

Satu per satu temuan dipublikasikan yang semuanya menuju ke satu kabar: cebakan Busang yang memenuhi syarat untuk menjadi tambang emas kelas dunia telah ditemukan. Temuan tersebut membuat saham Bre-X laku keras. Walsh dengan piawai memainkan peran sebagai stock promotor.

Pada April 1996, saham Bre-X menembus C$ 192,50. Sebuah lonjakan fantastis, mengingat pada 1989 sampai 1992, harga saham Bre-X berkisar pada angka rata-rata 27 sen saja.

Kisah Bre-X di Busang membuat Barrick Gold Corporation tergiur dan ingin menguasai mayoritas saham Bre-X. Namun, Walsh yang tersinggung dengan arogansi Barrick Chairman Peter Munk, mengabaikan tawaran dari raksasa tambang Kanada itu.

Gagal menguasai Bre-X melalui ‘jalur baik-baik’, Peter Munk memilih ‘main atas’: merangkul birokrat Indonesia. Menteri Koordinator Produksi dan Distribusi Hartarto dirangkul, akses ke Menteri Pertambangan dan Energi Ida Bagus Sudjana ditembus. Sebuah surat dari Brian Mulroney, mantan perdana menteri Kanada yang memiliki 500 ribu saham di Barrick, disampaikan kepada Sudjana. Tak cukup itu, Barrick juga menggandeng Siti Hardijanti Rukmana untuk bekerja sama.

Semua lobi itu membuat posisi Bre-X kena tonjok. Surat Izin Penelitian Pendahuluan (SIPP) Bre-X dicabut Kuntoro Mangkusubroto, Direktur Jenderal Pertambangan Umum. Pencabutan ini atas permintaan Sudjana melalui staf ahlinya, Adnan Ganto. Semula Kuntoro diminta menangguhkan kontrak karya Bre-X di Busang II dan III. Namun, ia menolak karena berlawanan dengan hukum. Belakangan, Kuntoro didepak dari posisi Direktur Jenderal Pertambangan Umum oleh Sudjana.

Masalah semakin ruwet, karena muncul Sigit Harjojudanto yang menggandeng Felderhof melalui PT. Panutan Duta. Kompensasinya, PT Panutan Duta mendapat US$ 1 juta setiap bulan selama 40 bulan untuk jasa konsultasi teknis dan administratif. Panutan Duta juga berhak memperoleh masing-masing 10 persen saham di Busang II dan III.

Namun Bre-X keliru jika menganggap Barrick menyerah begitu saja. Barrick justru memainkan kartu truf-nya yang lain: mantan presiden Amerika Serikat George Bush senior. Surat dari Bush untuk Presiden Soeharto memohon agar Barrick diikutsertakan dalam proyek Busang. Petunjuk Soeharto pun jelas: Barrick Gold harus diikutsertakan dalam pengelolaan Busang.

Untuk menyelesaikan konflik antara Bre-X dengan Barrick, Sudjana lantas mempertemukan keduanya pada 14 November 1996. Tanpa banyak cingcong, ia memutuskan Barrick mengambil 75 persen saham Busang dan Bre-X mempertahankan 25 persen saham. Pemerintah RI minta bagian 10 persen. Barrick merasa di atas angin, namun kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan.

Di tengah situasi ruwet itu, Mohamad ‘Bob’ Hasan masuk gelanggang proyek Busang melalui PT. Askatindo yang diakuisisinya. Ia menggandeng Freeport-McMoRan Copper and Gold Inc. untuk menyingkirkan Barrick dalam menggarap Busang.

Peter Munk pun menyerah.

Masuknya Freeport dalam konsorsium Busang dimanfaatkan Bre-X untuk mendongkrak citra. Kubu Bre-X langsung melaporkan bahwa dengan keahlian Freeport, tambang Busang bisa menghasilkan 150 sampai 200 ribu ton emas per hari, sehingga bisa menghasilkan 6 juta ons emas per tahun.

Namun Freeport tak seoptimis itu. Skeptisisme profesional Jim Bob Moffet, CEO Freeport-McMoRan Copper and Gold Inc., memandang perlunya memverifikasi dan mengkonfirmasi angka cadangan emas yang diklaim Bre-X.

Tim Freeport hanya menemukan emas dalam jumlah tak signifikan dalam inti bor yang diambil dari Busang dan telah diteliti di New Orleans. Pada inti bor tim ini hanya ditemukan sedikit emas vulkanis, sementara pada inti bor Bre-X yang ditemukan bukan emas vulkanis.

Walsh terkejut. Felderhof terpana.

Kubu Bre-X menyatakan Freeport mungkin tidak mengebor pada lubang yang tepat. Freeport pun meminta Bre-X menunjukkan persisnya lokasi emas bisa ditemukan. Maka Bre-X mengirimkan de Guzman sebagai manajer eksplorasi PT Bre-X Corp. ke Kalimantan, dan di sinilah puncak kehebohan Busang terjadi.

Hari itu, Rabu, 19 Maret 1997, Michael Antonio Tuason de Guzman berangkat untuk memenuhi panggilan Freeport. Namun, tak ada yang menyangka, ia terjatuh dari helikopter Alouette III yang membawanya dari bandara Temindung, Samarinda ke base camp tambang emas Busang di desa persiapan Mekarbaru.

Letnan kolonel Edi Tursono yang menerbangkan helikopter itu bersama juru mesin Andrean tidak tahu bagaimana de Guzman bisa jatuh. Yang jelas, saat helikopter di atas ketinggian 800 kaki, pintu kanan telah terbuka dan bangku belakang telah kosong.

Empat hari setelah insiden itu, jenasah de Guzman ditemukan tertelungkup di dekat rawa pada petak 85 areal penebangan hutan milik PT. Sumalindo Group oleh tim SAR. Jenasahnya ditemukan Martinus, seorang karyawan Bre-X, dan sulit dikenali karena sebagian mata dan sebagian pipinya telah hilang membusuk. Menurut dokter yang melakukan otopsi, identifikasi semata-mata didasarkan pada pakaian yang dikenakan dan gambaran umum ciri-ciri tubuh si mati seperti dinyatakan oleh orang-orang yang mengenal de Guzman.

Penemuan jenasah de Guzman memicu Bondan Winarno untuk mulai menulis buku tentang Bre-X. Penemuan jenasah di tengah hutan Kalimantan yang dikenal sangat lebat dalam waktu tak sampai sepekan itu terasa aneh.

“Kondisi tubuh yang dideskripsikan dalam berita itu juga tidak cocok dengan kondisi tubuh seseorang yang jatuh dari ketinggian 800 feet. Dari sepotong info ini, saya membuat satu kesimpulan berdasar professional skepticism bahwa semua cerita ini adalah palsu. Karena itu saya sangat berminat melakukan investigasi,” kata Bondan dalam sebuah emailnya kepada saya.

Bondan mengatakan bahwa investigasi itu adalah keisengan di tengah sepinya bisnis perusahaan tempat di mana ia menjadi presiden direktur. “Seingat saya, total waktu investigasi sekitar 4 minggu. Naskah sudah selesai saya tulis 8 minggu setelah mulai investigasi, dan dicetak dalam waktu 2 minggu,” katanya dalam email.

Selain membongkar bertumpuk dokumen dan referensi lain, Bondan juga berburu narasumber di Jakarta, Samarinda, Balikpapan, Busang, Manila, Toronto, Calgary. Ia harus dua kali ke Busang, sekali ke Manila, dan sekali ke Toronto dan Calgary di Canada. Ia menghubungi kurang lebih 30 narasumber.

Tidak semua narasumber bersedia memberi keterangan resmi kepadanya. Apalagi, ia hanya bekerja sebagai jurnalis independen waktu itu, tanpa media yang menaunginya.

Modalnya adalah sopan santun dan kerendahan hati dalam melakukan wawancara, sehingga banyak pihak yang bersedia bicara. Bahkan, dalam pengantar bukunya, Bondan mengaku bertemu dengan sejumlah “Deep Throats” di lingkungan Departemen Pertambangan dan Energi dan Bre-X.

“Deep Throats” merupakan sebutan duet jurnalis Washington Post Bob Woodward dan Carl Bernstein untuk narasumber kunci mereka, yang tak mau disebut identitasnya. Istilah “Deep Throat” pertama kali muncul saat duet Woodward dan Bernstein membongkar skandal Watergate yang membuat presiden Amerika Serikat saat itu, Richard Nixon, terjungkal.

“Terus terang, munculnya artikel saya di The Asian Wall Street Journal tentang kasus ini membuat banyak pintu terbuka. Mereka menduga saya ahli tambang, karena tulisan itu memang cukup komprehensif,” kata Bondan.

Tulisan yang berjudul All That Glitters: The Indonesian Gold Crush itu terbit di media tersebut pada tanggal 24 Januari 1997. Ia ditulis untuk meluruskan pemikiran Amien Rais soal penambangan emas yang melibatkan modal asing.

Mula-mula Bondan menolak teori bahwa de Guzman mati dibunuh. Ditemukannya sejumlah surat tinggalan de Guzman merupakan bukti yang sangat melemahkan skenario pembunuhan, dan mengarah pada kematian akibat bunuh diri.

“Bagaimana mungkin seorang yang dibunuh bisa menulis surat-surat berisi pesan-pesan yang begitu rinci,” tulis Bondan di halaman 131 bukunya.

De Guzman memang meninggalkan surat untuk Bernhard Laode, financial controller Bre-X, dan John Felderhof, yang mengesankan bahwa kematiannya direncanakan alias bunuh diri. Melalui Laode, ia titip pesan kepada sang istri Teresa agar jenasahnya dikremasi di Manila.

Kepada Felderhof, de Guzman malah meninggalkan pesan bunuh diri yang sangat terang, karena tak tahan dengan penyakit hepatitis B yang dideritanya. “Sorry I have to leave. I cannot think of myself a carrier of hepatitis “B”. I cannot jeopardize your life,” tulis de Guzman.

Pengakuan de Guzman mengalami hepatitis B dibenarkan dua istrinya, Susani Mawengkang dan Lilis. Namun, tidak berhasil ditemukan catatan medis yang menunjukkan adanya hepatitis B maupun penyakit lever akut sebagaimana yang pernah dikeluhkan de Guzman. Hasil uji jantung de Guzman juga menunjukkan kondisi jantungnya sehat-sehat saja.

Berdasarkan temuan-temuan ini, Bondan pun mencoret skenario bunuh diri dari kemungkinan penyebab kematian de Guzman. Ia menyodorkan hipotesis lain: kematian de Guzman adalah palsu.

Di mata Bondan, pria berusia 41 tahun itu tidak memiliki profil seseorang yang berkeinginan melakukan bunuh diri. Ia justru menyebut de Guzman sebagai penikmat kehidupan. De Guzman menikahi sejumlah perempuan, di antaranya warga Indonesia dan dikenal royal dalam urusan harta.

Adik de Guzman, Jojo de Guzman, juga menyangsikan sang abang bunuh diri. “Dia tak punya alasan untuk bunuh diri. Dia punya keluarga yang menyenangkan dengan enam orang anak yang manis,” katanya.

Rudy Vega, salah satu sobat de Guzman yang mengikuti pesta minum-minum semalam sebelum kematian de Guzman, juga mengatakan hal serupa. Pesta itu lebih meriah daripada pesta ulang tahun de Guzman sebelum-sebelumnya. “He behaved like he was on top of the world,” katanya.

Kecurigaan Bondan menguat, setelah menemukan fakta bahwa jenasah yang diklaim sebagai jenasah de Guzman tidak memiliki gigi palsu sebagaimana dimiliki de Guzman semasa hidup.

Dalam pelacakannya, Bondan mendatangi kantor National Bureau of Investigation (NBI) di Manila. Direktur NBI Santiago Ybanes Toledo menyatakan pihaknya tengah menanti catatan gigi de Guzman dari pihak keluarga. Mengapa pihak keluarga tak juga menyerahkannya? Bondan makin curiga.

Di bagian otopsi, seorang sumber membenarkan kecurigaan Bondan mengenai kematian de Guzman. Menurut sumber itu, seorang yang jatuh dari ketinggian 800 kaki tak mungkin ditemukan dalam posisi tertelungkup dan dengan tanda-tanda trauma seperti yang ditemukan pada mayat de Guzman. Tanda-tanda trauma pada jenasah de Guzman lebih mirip tanda trauma pada orang yang jatuh dari pohon kelapa.

Di pekuburan La Funeria Paz, tempat de Guzman dimakamkan, Bondan menemukan petunjuk lain. Tak ada bunga di atas makam. Tak ada pula sisa-sisa lilin, yang bahkan masih terlihat di makam-makam lainnya di sekitar makam de Guzman. Petugas makam mengatakan, selama hampir tiga pekan setelah dimakamkan, tidak ada satu pun anggota keluarga de Guzman yang berziarah.

Ini suatu hal yang ganjil. Seperti di Indonesia, di Filipina ada tradisi anggota keluarga terdekat mengunjungi makam kerabat yang meninggal sesering mungkin pada minggu-minggu pertama setelah dimakamkan.

Bondan memiliki sumber-sumber yang cukup kuat dalam menyelidiki kematian de Guzman. Dari salah satu sumber, ia berhasil menemukan alamat dan nomor telepon de Guzman Enterprise di Manila. Bondan beruntung mendapat keterangan sumber ini, mengingat buku telepon tak bisa diandalkan.

“Dalam investigasi saya, tak seorang pun tokoh-tokoh kunci yang terlibat kasus Busang ini yang tercantum namanya dalam buku petunjuk telpon. David Walsh dan Steve McAnulty di Calgary, Rolando Francisco di Toronto, Cesar Puspos dan Jerome Alo di Manila semuanya tak terdaftar,” tulis Bondan di halaman 147 bukunya.

Ia memang belum berhasil membuktikan bahwa de Guzman masih hidup, tetapi ceritanya meninggalkan alur yang terbuka, yang mengukuhkan keyakinan bahwa de Guzman kemungkinan ada di Cayman Island, Brasil, atau tempat terasing di salah satu sudut dunia, tengah menikmati hidup.

‘Kematian’ de Guzman seolah menjadi klimaks skandal Busang. Satu per satu kebohongan Bre-X terkuak. Besarnya cadangan emas di Busang disebut hanya isapan jempol.

Diduga kuat, de Guzman menjadi otak peracunan inti bor yang digunakan untuk menemukan potensi emas di Busang. Caranya dengan menaburkan sejumlah emas di atas inti bor sehingga memunculkan kesan pengeboran menembus tanah dengan kandungan emas yang besar saat diperiksa di laboratorium.

Peter Waldman dan Jay Solomon dari Harian The Wall Street Journal menulis bahwa peracunan ini dilakukan oleh sejumlah geolog Filipina, di sebuah gudang di Loa Duri, di samping sebatang sungai dekat Samarinda. Puncaknya, Desember 2006, peracunan dilakukan siang dan malam di bawah pengawasan dua anak buah de Guzman, yakni Jerry Alo dan Rudy Vega.

Namun, hasil investigasi Bondan menunjukkan berita The Wall Street Journal itu spekulatif. Berdasarkan penelusurannya di Loa Duri, tak diperoleh keterangan mengenai peracunan apa pun terhadap inti bor.

Cara dan tempat peracunan inti bor masih gelap. Yang terang-benderang adalah nilai saham Bre-X anjlok. Tanggal 6 Mei 1997, pada suatu transaksi di Toronto Stock Exchange, harga saham Be-X hanya 6 sen!

Dalam selang beberapa hari, nama Bre-X dicoret dari daftar di bursa saham Toronto, Alberta, dan Vancouver. Bre-X lantas secara sukarela mengundurkan diri dari NASDAQ di New York.

Pada Juli 1997, buku Bondan yang berjudul Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi dicetak dan mulai diedarkan. Tabloid Kontan menyebut Bondan telah memenangkan perlombaan penulisan tentang Busang.

Bukunya bisa disandingkan dengan The Bre-X Fraud karya duet reporter The Mail and Globe Douglas Goold dan Andrew Willis, Bre-X: Gold Today, Gone Tomorrow karya James Whyte dan Vivian Danielson, Bre-X: The Inside Story karya Diane Francis, atau Fools Gold: The Making of a Global Market Fraud karya Brian Hutchinson.

Namun, para penulis tadi tidak berhasil memastikan kematian de Guzman. Francis malah melemparkan apologi bahwa dengan polisi, militer, dan pemerintah yang korup, misteri de Guzman (dibunuhkah dia?) sulit dikuak. Buku-buku tersebut akhirnya hanya berputar-putar pada intrik politik dan bisnis yang mewarnai skandal ini.



PADA Kamis, 4 Juni 1998, David Walsh meninggal di sebuah rumah sakit di Bahama dalam usia 52 tahun. Empat hari sebelumnya ia terkena stroke. Menurut juru bicara Doctors Hospital di Nassau, Walsh meninggal pukul 12.15, ditemani anggota keluarganya di samping ranjangnya.

Di situs surat kabar Calgary Herald, George Damianos, seorang agen real estate berkebangsaan Bahama, memberikan komentarnya seputar kematian Walsh. Ia menduga tekanan skandal Bre-X turut memberikan sumbangan terhadap kondisi Walsh yang kritis. “Setiap orang ingin mencincangnya,” katanya.

Sementara itu, Bre-X dinyatakan bangkrut tahun 2002, kendati ada sejumlah perusahaan subsidernya seperti Bro-X berlanjut hingga tahun 2003. Ini puncak dari berbagai gugatan hukum dari para investornya yang marah karena kehilangan miliaran dollar.

Tiga organisasi publik Kanada yang mengalami kerugian besar-besaran adalah The Ontario Municipal Employees Retirement Board Ontario Municipal Employees Retirement Board ($45 juta), The Quebec Public Sector Pension FundQuebec Public Sector Pension fund ($70 juta), dan The Ontario Teachers Pension PlanOntario Teachers Pension Plan ($100 juta). Mereka yang merasa dirugikan lantas mengajukan class action terhadap Bre-X.

Felderhof menjadi orang terakhir dari Tiga Besar Bre-X (yang lainnya, de Guzman dan Walsh) yang diketahui masih hidup. Ia sempat dikabarkan berada di berbagai tempat yang aman dari jangkauan hukum, seperti Kepulauan Cayman yang tak memiliki perjanjian esktradisi dengan Kanada. Di sana, ia menyimpan aset-asetnya.

Yang mengejutkan, Calgary Herald melaporkan, Felderhof sempat berada di Bali dan menikmati hidup di sana. Padahal, praktis, ia menghadapi gelombang tuntutan hukum akibat skandal Busang seorang diri. Ia mewakili dirinya langsung dalam menghadapi proses hukum terpisah di Ontario. Ia tak lagi punya kuasa hukum, karena menunggak fee sang kuasa hukum hingga C$1 juta. Sementara aset Felderhof di Kepulauan Cayman tampaknya telah dibekukan pengadilan sejak tahun 1997.

Komisi Keamanan Ontario (Ontario Securities Commission/OSC) telah menyeretnya ke meja hijau. Komisi ini menyatakan Felderhof telah merilis berita menyesatkan sebagai isu dalam investasi publik.

Persidangan Felderhof sudah berjalan selama enam tahun, sejak tahun 2001. Diharapkan, Hakim Superior Court Peter Hryn sudah bisa membacakan putusan pada Juli 2007. Jika tuduhan itu terbukti, Felderhof bakal terkena sanksi mulai dari denda sekitar C$1 juta hingga penjara selama dua tahun, ditambah sanksi atas insider trading yang dilakukannya.

Kematian de Guzman masih misteri. Namun, Bondan bersikukuh pada tesisnya soal kematian palsu.

“Kalau saya benar-benar menganggur dan tidak punya urusan lain, saya akan mencari Michael de Guzman. Saya punya beberapa lead menuju ke sana. Michael telah menyengsarakan begitu banyak orang (khususnya pensiunan) di Kanada karena memakai semua tabungan mereka untuk membeli saham Bre-X,” katanya dalam emailnya untuk saya.

Boleh jadi Bondan benar. Genie de Guzman, istri kedua Michael, menyatakan pernah dua kali menerima uang dari sang suami sejak dinyatakan hilang. Menurut Calgary Herald, pada tahun 2005 Genie mengaku kepada jurnalis John McBeth, bahwa Michael de Guzman menelepon ke rumah enam pekan setelah dilaporkan tewas. Sang geologis sempat bicara dengan salah satu pembantu di rumah.

"Mike bilang, saat itu senja baru saja turun di tempat di mana dia baru saja bangun,” kata Genie. Ia diminta mengecek rekening banknya, dan di sana memang terdapat transfer US$ 200 ribu.

Genie mengaku menerima sebuah faksimili dari Brasil, tambahan deposito US$ 25 ribu di tahun 2005. Menurut laporan Calgary Herald, uang dikirimkan saat Hari Kasih Sayang yang bertepatan dengan hari ulang tahun de Guzman, 14 Februari.

Sayangnya, kendati sudah memiliki petunjuk tentang de Guzman, Bondan ternyata tidak berniat untuk membuat sekuel tentang skandal Busang. “Tidak. Tidak ada gunanya,” katanya kepada saya.

Jangankan menulis sekuel, terjemahan bahasa Inggris buku Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi yang sudah selesai disunting Wendy Thomas (Kanada) pun urung diterbitkan.

“Saya tidak bersedia menghadapi lembaga peradilan yang korup di Indonesia. Untuk masalah buku ini saya sudah hilang banyak uang,” katanya.

Saat diterbitkan pertama kali, bukunya langsung dicekal oleh seorang yang berpengaruh di masa Orde Baru melalui tangan hukum. Sang pejabat bahkan berani mengganti biaya operasional Bondan untuk menerbitkan buku itu, asal ia tidak diedarkan.

Dalam suplemen yang diselipkan di bukunya yang dikirimkan kepada saya, Bondan mengaku kecewa berat karena sebuah karya coba dimatikan begitu saja dengan uang. Ia merasa jerih payahnya tidak dihargai sama sekali.

Dengan penuh rasa frustasi, Bondan pernah berniat menghancurkan 5.000 eksemplar buku yang tersisa. Namun turunnya Soeharto pada Mei 1998 membuat optimismenya bangkit. Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi kembali diedarkan dalam situasi yang lebih bebas. Pada Juni 1998, buku itu beredar di pasaran.

Namun, kebebasan itu belum sepenuhnya terbuka. Kali ini Bondan justru diserang lewat lembaga peradilan. Ia dituntut Rp 2 triliun oleh mantan Menteri Pertambangan dan Energi I.B. Sudjana yang menuduhnya mencemarkan nama baiknya. Selain itu, Bondan juga dituntut memasang iklan permintaan maaf di 10 media cetak di Jakarta dan dua koran di Bali.

Beberapa dosa Bondan di mata Sudjana, antara lain menyangkut konklusi yang ditulis dalam buku Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi mengenai “kesalahan” pada proyek kerja sama antara Bre-X dengan mitra domestik PT Tambang Batu Bara Bukit Asam.

Sudjana menggunakan apa yang tertulis di halaman 186-187, tepatnya dalam bab 8 ‘Ida Bagus Sudjana’, untuk menghantam Bondan. Dalam bab itu, Bondan menulis tentang inkonsistensi Sudjana dalam menangani Busang dan soal permintaan setoran dana Rp 50 miliar ke rekening Pak Menteri.

Inkonsistensi adalah ciri yang agak menonjol dari Sudjana. Pada Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, 11 Desember 1996, ia mengatakan bahwa BUMN harus ikut dalam konsorsium menggarap Busang. Pada 17 Februari 1997 ia mengamini Mohamad Hasan yang mengatakan bahwa BUMN tidak boleh ikut sebelum tahap eksploitasi karena resiko yang terlalu besar. Pada akhir Februari 1997 ia menyatakan bahwa putranya, Dharma Yoga Sudjana, tidak diizinkan ikut serta menikmati kue Busang. Tetapi, itu dikatakannya setelah jelas-jelas Barrick—di mana putranya semula ikut terlibat—terdepak keluar dari pertarungan untuk memperebutkan rezeki Busang. Sikap inkonsisten itu pula yang tampak ketika ia dihebohkan meminta dana dari PT Tambang Batu Bara Bukit Asam senilai Rp 50 miliar untuk disetor ke rekening pribadinya pada 1994. Menurut Sudjana, dana itu diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan Departemen Pertambangan dan Energi.

Sebagaimana ditulis Tempo, Sudjana berang karena kepribadiannya tak luput dari sorotan buku tersebut. Sudjana dikatakan kurang pintar berbahasa Inggris dan daya ingatnya pendek. Gaya bicaranya kurang mengesankan dan sikapnya kurang manusiawi. Sudjana menyatakan Bondan tak pernah menghubunginya untuk mengkonfirmasi hal itu.

Bondan bersikukuh, tak ada yang salah dengan bukunya. Soal uang Rp 50 miliar yang masuk rekening Sudjana, ia mengatakan kepada Tempo, “Saya hanya bilang soal dana itu dihebohkan. Saya tak bilang ia korupsi.”

Soal kepribadian Sudjana yang tidak mengesankan itu, sebenarnya Bondan mengutip Brian Hutchinson di Canadian Business. Hal ini ditulisnya di halaman 100.

…Misalnya tentang Sudjana, ia (Hutchinson, penulis) menulis: The tall, stiff Sudjana has no grasp of the technicalities of mining. He is completely incompetent, he leaves everything to his advisers.

Sementara soal ketidakmahiran Pak Menteri berbicara dalam bahasa Inggris, itu didasarkan pada fakta yang ditemukan Bondan, sebagaimana tertulis di halaman 102. Di situ ia menceritakan pertemuan Sudjana dengan Bre-X dan Barrick, tanggal 14 November 1996.

Pertemuan itu berjalan singkat. Sudjana membacakan pernyataan tertulis dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah… Tak ada penjelasan lebih lanjut. Sudjana berdiri dan kemudian meninggalkan ruang rapat.

Kendati merasa yakin sudah menyajikan fakta, tuntutan Rp 2 triliun membuat Bondan pusing juga. Kepada Tempo, ia mengaku stres. “Angka nolnya saja ada dua belas,” ujar pria yang saat itu tengah menjadi konsultan Bank Dunia di Jakarta.

Mengenang kasus itu, kepada saya Bondan mengatakan, Sudjana berani menuntut karena dirinya tidak berkaitan dengan media mainstream.

“Padahal, di pengadilan saya buktikan betapa media mainstream (termasuk Kompas dan Tempo) memakai bahasa caci-maki yang cukup keras di media mereka. Buku saya memakai bahasa yang lebih santun,” katanya, dalam email kepada saya.

Keheranan Bondan dituangkan dalam sebuah artikel di Kompas yang terbit pada 19 November 2001 dengan judul "The Audacity of the Desperate". Tanpa menyinggung nama Sudjana, ia menegaskan bahwa nama Pak Menteri sudah rusak pada 1997, sementara buku Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi baru beredar tahun 1998. “Lho, elok, kan? Kok saya yang dituduh mencemarkan nama baiknya,” tulis Bondan.

Dengan dituntut Rp 2 triliun, Bondan merasa dosanya 160 kali lebih besar daripada dosa Osama Bin Laden. Osama yang dituduh berada di balik penghancuran dua menara kembar World Trade Center di New York pada 11 September 2001 dan menewaskan ribuan orang di dalamnya, hanya dituntut US $ 1,25 juta, atau setara dengan Rp 12 miliar.

Dalam pertarungan hukum perdata dan pidana, Bondan terjengkang. Di pengadilan pidana ia dinyatakan bersalah, dengan dalih hukum: untuk menghina seseorang tak diperlukan adanya niat.

Bondan diharuskan membayar ongkos perkara Rp 1000, dan menjalani hukuman percobaan beberapa bulan. Dalam perkara perdata, Bondan dinyatakan kalah dan harus membuat iklan pernyataan maaf sebesar satu halaman di 16 koran nasional.

Kekalahan ini menyakitkan bagi Bondan. Ia melihat motif Sudjana untuk mencuci nama melalui lembaga pengadilan.

“Yang penting, agaknya, adalah adanya keputusan pengadilan yang menyatakan saya bersalah dan menjadi terpidana. Dengan demikian orang yang memerkarakan saya itu bisa mengadakan konferensi pers dan menyatakan bahwa ia menang,” tulis Bondan di Kompas.

Namun tidak ada yang lebih membuat Bondan remuk-redam, kecuali tuduhan bahwa dirinya menulis buku itu karena dibayar oleh Kuntoro Mangkusubroto yang kemudian menjadi Menteri Pertambangan dan Energi, dan sekarang ini menjabat Ketua Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias.

“Saya sakit hati. Banyak pejabat yang menduga wartawan itu kere dan tidak punya duwit, karena itu tidak mungkin seorang wartawan membiayai sendiri investigasi sekaliber itu. Tuduhan ini sangat menyakitkan,” kata Bondan kepada saya.

Bondan setidaknya menghabiskan US$ 7.500 untuk biaya keseluruhan proyek tersebut.

Entah bagaimana tuduhan itu bisa muncul. Boleh jadi, kesan itu muncul dari nuansa tulisan Bondan yang cenderung bersahabat dengan Kuntoro. Bagi pihak yang jengkel terhadap Bondan, Post Scriptum di halaman 230 bisa dijadikan alasan untuk menuduhnya bias saat menulis tentang Kuntoro.

Dengan gembira saya menambahkan catatan ini. Dr. Kuntoro Mangkusubroto dalam waktu singkat telah “direhabilitasi”. Pada bulan Juni 1997 Presiden Soeharto telah mengangkat Kuntoro sebagai Wakil Ketua BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal).

Bondan kecewa dikalahkan di pengadilan. Namun, yang tak kalah mengecewakan adalah tiadanya dukungan dari media massa di Indonesia. Ia merasa sendirian dalam persidangan melawan Sudjana. Ironis. Padahal, Bondan menjadi salah satu orang terdepan dalam gerakan Pers Melawan Premanisme yang memprotes kekerasan yang dilakukan anak buah Tomy Winata terhadap wartawan majalah Tempo.

Waktu itu dukungan justru datang dari kawan-kawan Bondan di Bank Dunia yang berniat urunan untuk membiayai ongkos perkaranya. Namun ia menolak bantuan itu, karena khawatir dituduh macam-macam lagi.



SATU dasawarsa sejak Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi terbit, Indonesia berada di era kebebasan. Media massa tumbuh subur. Tak ada lagi breidel. Tak ada lagi sensor dan pembungkaman terhadap pers. Perang terhadap korupsi dan kejahatan negara mengemuka.

Seharusnya, dalam iklim seperti ini, jurnalisme investigasi sebagaimana yang dilakukan Bondan menjadi pilihan yang tak terelakkan. Indonesia membutuhkan produk media yang mengedepankan verifikasi dan pemantauan terhadap laku kekuasaan.

Sayangnya, satu dasawarsa setelah Bondan menelanjangi Bre-X dan skandal Busang, publik jarang disuguhi laporan investigasi yang solid.

“Terus terang hanya Tempo yang saya anggap punya kemampuan melakukan investigasi, dan menggarapnya secara apik pula,” kata Bondan kepada saya.

Sejak terbit kembali pada tahun 1998 (setelah dibreidel pada tahun 1994), majalah Tempo menyediakan rubrik khusus yang diberi tajuk “Investigasi”.

Dalam edisi 7 Desember 1998, majalah Tempo juga memuat tentang skandal Busang dan menurunkan delapan artikel yang ditulis Hermien Y. Kleden dan Farid Gaban.

Namun, tulisan-tulisan itu tak bisa dibandingkan dengan karya Bondan. Tempo tidak melakukan reportase keliling dunia layaknya Bondan. Rubrik “Investigasi” itu hanya berisi cuplikan buku penulis asing dan riset data di internet tentang Busang. Saya tidak paham, kenapa buku Bondan tidak ikut dijadikan referensi oleh mereka. Tempo hanya menyebut buku Diane Francis (Bre-X: The Inside Story) dan The Bre-X Fraud karya Douglas Goold dan Andrew Willis.

Berbeda dengan Bondan, Tempo malah tidak menyinggung sama sekali kemungkinan de Guzman memalsukan kematiannya. Dalam tulisan berjudul Tragedi di Akhir Pesta, teras berita Tempo masih berkutat pada dua kemungkinan: bunuh diri atau dibunuh.

Ya, harus diakui bahwa dalam sepuluh tahun terakhir ini taring jurnalisme investigasi di Indonesia masih belum terasah. Hanya sedikit jurnalis yang karyanya bisa dikategorikan sebagai laporan investigasi. Selain Bondan, ada George Junus Aditjondro dengan investigasinya tentang harta kekayaan tokoh-tokoh rezim Orde Baru.

Sama hanya dengan Bondan, Aditjondro juga sempat kena gugat gara-gara bukunya yang berjudul Dari Soeharto ke Habibie: Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari. Buku ini terbit tahun 1998. Probosutedjo menuntut Aditjondro membayar Rp 500 miliar, karena ia merasa difitnah di situ.

Adik tiri Soeharto ini keberatan dengan tudingan Aditjondro, yang menyebut dirinya membakar hutan.

“Kata-kata ‘pribumi’ yang saya gunakan disebutnya hanya untuk mencari popularitas. Wah, mitra bisnis saya bisa ketakutan. Usaha saya bisa berantakan,” kata Probosutedjo kepada majalah Tempo.

Saya tidak tahu, apakah ancaman gugatan hukum membuat jurnalisme investigasi di Indonesia melempem. Yang terang, melakoni liputan serius dan bekerja layaknya detektif tidaklah gampang.

Jurnalis kita harus memperhatikan disiplin verifikasi, jika tak ingin tersangkut perkara. Setiap fakta yang diperoleh harus selalu dicek ulang dengan banyak sumber, dengan banyak versi. Persoalannya, tak banyak jurnalis yang memahami disiplin verifikasi, selain memang sebagian malas untuk selalu memeriksa ulang data dan fakta yang mereka temukan.

Meskipun verifikasi sudah dilakukan, belum tentu jurnalis juga selamat dari jeratan hukum. Sistem peradilan Indonesia yang korup merupakan rintangan yang terberat. Bondan sudah membuktikannya.

Beban seorang jurnalis investigasi memang tak ringan.

“Bukan saja karena pekerjaan ini penuh risiko, tetapi juga menuntut kecerdasan di atas rata-rata,” kata Bondan.

Saat saya menyatakan kekaguman terhadap bukunya itu, Bondan justru menjawab dengan nada canda dalam suratnya.

“Saya tidak menganggap buku saya itu monumental. Mungkin saja yang baik/kompeten di antara yang belum ada. Ukurannya terlalu nisbi. Pembandingnya tidak ada. Plis deh, jangan bikin saya besar kepala.”

Ia sungguh rendah hati.*


*) Oryza Ardyansyah Wirawan adalah kontributor sindikasi Pantau di Jember, Jawa Timur.
kembali keatas
Kursus Narasi XVIII
FacebookTwitter