BERANDA
LIPUTAN
PROGRAM
MAJALAH
PROFIL
Mbangun Desa, Bertahan Dua Orde
Anonim (sementara)
Mon, 7 January 2002
DEN BAGUSE NGARSO atau Ngarso Pareng, sangat akrab di kalangan penonton TVRI stasiun Yogyakarta. Ia tampil di dalam acara Mbangun Desa tiap Minggu sore.
DEN BAGUSE NGARSO atau Ngarso Pareng, sangat akrab di kalangan penonton TVRI stasiun Yogyakarta. Ia tampil di dalam acara Mbangun Desa tiap Minggu sore. Tak panjang, durasi acara ini hanya 30 menit. Ngarso dikenal sebagai priyayi ndeso, priyayi lapis bawah, tapi merasa sebagai priyayi ningrat. Ia jadi sombong, sering bicara nylekit, menyakiti lawan bicara, dan mau menang sendiri.

"Saya sebel sama Ngarso. Sok tahu, ngeyel tapi tingkahnya menggelikan. Kebetulan cucu saya yang masih empat tahun seperti dia, karena itu saya kadang memanggil cucu saya Den Baguse Ngarso," ujar ibu Hartono Kusumo Haryono, perempuan berusia 70 tahun, penduduk Kotagede, Yogyakarta.

Karakter Ngarso sengaja dimunculkan seperti itu. Heru Kesawa Murti, penulis skenario Mbangun Desa, mengatakan tokoh antagonis macam Ngarso akan disukai dan ditunggu-tunggu penonton. Orang kepingin, selain punya obsesi baik, juga punya obsesi jelek. Kepingin nylekit atau bertindak semena-mena, misalnya. Den Baguse Ngarso mewakilinya, bisa semena-mena dan mengata-katai siapa saja.

"Nah tokoh ini meminjam yang seperti itu. Tokoh ini memang disediakan untuk menampung maunya penonton. Semacam katarsis," ujar Heru dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

Setelah ditimbang-timbang, pemeran Ngarso jatuh kepada Susilo Nugroho, guru sebuah sekolah menengah di Bantul, Yogyakarta, yang juga anggota Teater Gandrik, pimpinan Butet Kartaredjasa.

Susilo, tutur Heru, sangat cocok dengan karakter itu. Di Gandrik, Susilo sering memerankan banyak peran. Kelebihannya, ia bisa mengelola akting dan menjaga stamina. "Yang saya khawatirkan, kalau itu jadi melekat kemudian menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Apakah dia begitu, tapi gayanya, ya persis Den Baguse Ngarso itu," ujar Heru, tertawa.

Susilo mengiyakan bila karakter Den Baguse Ngarso sekali waktu terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana ia sering disindir teman-temannya saat bicara, dibilang kerasukan roh Den Baguse Ngarso. "Ya, sudah 10 tahun lebih saya memerankan Ngarso, pasti ada pengaruhnya," ujar Susilo, cengengesan. Susilo kini berumur 42 tahun.

Memerankan Ngarso, baginya, justru membawa keberuntungan. Setidaknya, jadi terkenal, dan ditanggap di mana-mana, juga di pesta perkawinan. Sebagai pemeran tokoh antagonis, Susilo tak dibenci penontonnya. Suatu kali ia malah dicari-cari seorang ibu hamil yang mengidam mengusap-usap kepala Ngarso. Jauh-jauh dari Kudus, tempat tinggalnya, si ibu itu mendatangi Yogyakarta, sekadar melaksanakan keinginannya.

Bukan hanya Susilo saja yang dicari-cari penonton. Heru, pemeran Pak Bina, karakter yang dikenal sebagai tokoh informal, yang gemar menyampaikan informasi aktual kepada masyarakat sekelilingnya, tak jarang kedatangan tamu. Pernah, ia didatangi sepasang suami istri dari desa. Mereka membawa beberapa butir kelapa dan minta bantuan Heru menyelesaikan sengketa tanah.

"Waduh, celaka. Saya katakan pada mereka, kalau saya membicarakan tanah di acara Mbangun Desa, itu kan saya dibisiki. Kalau tak dibisiki saya tak tahu. Karena itu saya sarankan mereka tanya saja ke pengadilan. Kalau ke tempat saya pasti saya jamin tak rampung masalahnya," ungkapnya.

Pernah pula Heru didatangi orang yang menanyakan nomor buntut. "Dikiranya penonton itu, saya tahu segalanya, sampai soal nomor buntut," katanya.

Munculnya banyak tanggapan dari para penonton, bisa dikatakan Mbangun Desa memang disenangi. Dan kesemuanya berkat kerja keras Heru dan kawan-kawan, sempalan Teater Gandrik.

Keterlibatan mereka di dalam acara Mbangun Desa bermula ketika Teater Gandrik syuting di TVRI Yogyakarta pada 1986. Pada kesempatan itu, mereka mengritik acara Mbangun Desa yang ditayangkan sejak 1968. Penyampaiannya terlalu menggurui, penonton dianggap tak tahu apa-apa. Menanam padi, misalnya, Mbangun Desa versi lama itu menyajikannya dengan penjelasan cara tanam yang begini, pupuk harus begitu, atau tipe varietas unggul ini-itu.

Susilo dan Heru menyarankan formatnya diubah, berbentuk sinetron. Penyampaiannya tak lagi dari atas ke bawah, sesuatu yang di zaman itu, zaman Orde Baru, menjadi kelaziman. "Filosofinya penonton sudah tahu, hanya saja lupa. Nah, tugas kita mengingatkan. Kesan menggurui hilang dan lebih enak ditonton," kenang Susilo.

Program pemerintah yang dilontarkan juga dikemas sedemikian rupa sehingga ada semacam tawar-menawar. Misalnya, dalam melontarkan program Keluarga Berencana, penonton tak hanya dihadapkan pada pilihan cukup punya dua anak. Penonton dihadapkan pada cerita sebuah keluarga yang mempunyai dua anak dengan keluarga yang punya 12 anak. Keduanya mempunyai masalah sendiri-sendiri. "Jadi, penonton tidak hanya menelan pesan begitu saja," kata Heru.

Kritik mereka ditanggapi secara serius oleh TVRI Yogyakarta. Heru dan Susilo diminta menulis skenario. Maka, dibuatlah naskah yang menceritakan persoalan air limbah. Setelah ditayangkan, format baru Mbangun Desa mendulang sukses. Penggemarnya banyak kendati berisi pesan-pesan pembangunan ala Orde Baru.

Heru dan kawan-kawan diminta terus mengisi acara ini. Sejak itu mereka jadi pemain tetap.

Kesan tak menggurui serta enak untuk dinikmati juga dirasakan ibu Hartono. "Menonton acara Den Baguse Ngarso itu menghibur. Pesan-pesan yang disampaikan dibungkus dalam hiburan, sehingga enak untuk diterima," ujarnya.

Kesuksesan Mbangun Desa tak lepas dari kejelian mengangkat persoalan sehari-hari yang dihadapi masyarakat pedesaan. Untuk mendukung itu, diciptakan tokoh-tokoh yang begitu akrab di kalangan mereka. Selain Den Baguse Ngarso dan Pak Bina, juga muncul tokoh Sronto, tipe manusia pasrah, diperlakukan bagaimana pun mau asalkan bisa hidup. Lalu ada tokoh Kuriman, tipe orang penuh perhitungan. Tokoh lainnya Yu Sronto, aktivis desa yang sering kehilangan kontrol.

Meski terbilang sukses, toh Heru masih belum puas. Penikmat acara ini masih terbatas di kalangan tertentu, yakni penonton TVRI Yogyakarta. Dia berharap, Mbangun Desa bisa dinikmati penonton seluruh Indonesia.*
kembali keatas
Kursus Narasi XVIII
FacebookTwitter